News

Dorong Kebijakan Berbasis Riset, Bapperida Kalbar Fokus pada Energi Terbarukan dan Penurunan Emisi Karbon

KALBAR.PUSARAN.ONLINE – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan Seminar Akhir Penelitian Analisis Potensi Energi Terbarukan sebagai Alternatif Pengurangan Emisi Karbon di Kalimantan Barat di Hotel Ibis Pontianak City Center, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan ini merupakan tahapan akhir dari rangkaian penelitian yang dilaksanakan melalui kerja sama antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tanjungpura sebagai upaya menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam mendukung transisi energi bersih dan pembangunan rendah karbon di Kalimantan Barat.

Kegiatan seminar dibuka oleh Kepala Bapperida yang dalam hal ini diwakili oleh kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah pada Bapperida Provinsi Kalbar Dr. Vincencia Septaviani I. S. P., S.Hut., M.P dan menghadirkan narasumber yg terdiri atas Asisten II Setda Provinsi Kalbar Bidang Perekonomian dan Pembangunan Heronimus Hero, SP., M.Si, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Barat, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), perangkat daerah, akademisi, serta para pemangku kepentingan serta tim peneliti Universitas Tanjungpura.

Dr. Vincencia Septaviani I. S. P., S.Hut., M.P menyampaikan apresiasi kepada LPPM Universitas Tanjungpura beserta seluruh tim peneliti atas dedikasi dan kerja sama yang telah terjalin selama proses penelitian. Menurutnya, penelitian mengenai potensi energi terbarukan memiliki nilai strategis karena sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon nasional.

Dalam sambutannya, bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan tantangan nyata yang harus direspons melalui kebijakan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan. Kalimantan Barat memiliki modal yang sangat besar berupa kekayaan sumber daya alam, mulai dari potensi tenaga surya, tenaga air, biomassa, hingga biogas yang berasal dari limbah perkebunan dan pertanian. Namun demikian, potensi tersebut harus diwujudkan menjadi kebijakan, investasi, dan aksi nyata agar memberikan manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi terhadap pencapaian target Net Zero Emission Indonesia.

Selanjutnya, tim peneliti yang diwakili oleh Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si. memaparkan hasil penelitian mengenai potensi energi baru terbarukan di Kalimantan Barat. Disampaikan bahwa posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, memiliki jaringan sungai yang luas serta berada di kawasan konservasi Heart of Borneo menjadikan daerah ini memiliki peluang besar dalam pengembangan energi hijau.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi pengembangan energi surya, tenaga air (hidro), biomassa, panas bumi, dan energi bayu. Kabupaten Sambas diidentifikasi sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan biomassa, tenaga surya, dan hidro. Limbah perkebunan kelapa sawit dan hasil pertanian berpotensi menjadi sumber biomassa yang mendukung ekonomi sirkular, sementara tingginya intensitas penyinaran matahari memungkinkan pengembangan PLTS atap, komunal, maupun skala besar. Selain itu, jaringan sungai yang luas membuka peluang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), khususnya di wilayah pedesaan dan perbatasan, meskipun masih terdapat tantangan berupa keterbatasan infrastruktur dan kelembagaan energi.

Dalam kajian tersebut, tim peneliti juga menawarkan tiga skenario transisi energi, yaitu Business as Usual (BAU), Transisi Moderat, dan Transisi Agresif. Pemilihan skenario mempertimbangkan berbagai aspek, seperti potensi sumber daya energi, kebutuhan listrik, pengurangan emisi karbon, biaya energi, ketahanan dan kemandirian energi, kelayakan investasi, serta dampak sosial ekonomi. Untuk mendukung implementasinya, direkomendasikan penyusunan roadmap pengembangan EBT, penguatan kelembagaan, pembentukan konsorsium biomassa sawit, integrasi dengan PLN, pengembangan pembiayaan hijau, serta penguatan ekonomi produktif masyarakat.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, menyampaikan pentingnya penyusunan data kuantitatif mengenai potensi energi surya, biomassa, dan hidro sebagai dasar penyusunan roadmap serta penghitungan potensi pengurangan emisi karbon. Ia juga menyoroti besarnya potensi biomassa dari sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang dinilai mampu menjadi sumber energi alternatif apabila dikelola secara optimal.

Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Vincencia Septaviani Issera Sulistya P., S.Hut., M.P., mengapresiasi hasil penelitian yang telah berhasil mengidentifikasi potensi EBT di Kabupaten Sambas, menyusun skenario transisi energi, serta menghasilkan roadmap pengembangan EBT. Ia memberikan sejumlah rekomendasi penguatan, di antaranya penetapan lokasi prioritas berdasarkan kelayakan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan; penyusunan analisis investasi yang lebih rinci; penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor; serta penyusunan indikator keberhasilan agar implementasi roadmap dapat dimonitor dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Bapperida Provinsi Kalimantan Barat berharap hasil penelitian tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan strategis yang mendukung percepatan transisi energi, peningkatan investasi energi bersih, penguatan ketahanan energi daerah, serta pencapaian target pembangunan rendah karbon dan pengurangan emisi gas rumah kaca di Kalimantan Barat.

Related Posts

1 of 18